Selasa, 27 Oktober 2020
» Artikel » MEMAKNAI TAHUN BARU
MEMAKNAI TAHUN BARU

MEMAKNAI TAHUN BARU

Oleh : H.M. Gapuri  

Beberapa hari lagi, Tahun 2014 akan berlalu dengan meninggalkan sejumlah kenangan, suka maupun duka. Dan sebentar lagi, Tahun Baru 2015 akan datang kehadapan kita. Hampir di semua kota, persiapan menyambut tahun baru itu sudah nampak dengan maraknya penjualan trompet yang akan digunakan pada malam pergantian tahun.

Konon, perayaan Tahun Baru 1 Januari dimulai oleh Paus Gregorius XIII pada Tahun 1582 yang merupakan salah satu hari suci umat Kristen. Namu ada pula yang mengatakan, perayaan tahun baru itu sudah ada sejak 1 Januari 45 tahun SM (Sebelum Masehi). Hingga kini, di seantero dunia merayakan tahun baru merupakan suatu keniscayaan : pesta kembang api, hura-hura, mabuk-mabukan merupakan tradisi yang melekat di setiap pergantian tahun. Anehnya perayaan yang terkesan menghambur-hamburkan uang itu terjadi pula di negara yang penduduknya mayoritas muslim seperti Abu Dhabi, Indonesia, Malaysia dan sebagainya. Mungkin hanya Arab Saudi yang tidak merayakan ‘pesta’ tahunan itu.

Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya 1 Januari 2005, penulis sedang berada di Madinah dalam rangkaian melaksanakan ibadah haji. Di Madinah, tidak ada suara terompet apalagi pesta kembang api yang menandai pergantian tahun masehi itu. Semua orang beraktifitas seperti biasa. Di malam tahun baru, puluhan ribu massa berduyun-duyun menuju Masjid Nabawi, beriktikaf lalu kembali ke penginapan usai shalat Isya. Begitu pula penduduk setempat, tidak ada yang pergi ke tanah lapang atau alun-alun, tak ada hiburan rakyat, tak ada suara sirene atau dentuman kembang api menghias angkasa. Denyut kota Madinah tetap tenang setenang hati kaum muslimin yang berziarah ke makam Rasulullah. Suasana begitu syahdu, jauh dari hiruk-pikuk keramaian dan kemacetan yang lazim terjadi di malam tahun baru.

Sejatinya pergantian tahun  digunakan untuk saling introspeksi, mengevaluasi diri. Sejauh mana hasil yang telah dicapai dalam pekerjaan, apakah sudah memuaskan atau masih banyak kekurangan, keberhasilan atau kegagalan. Apabila keberhasilan yang didapat, tentu harus dipertahankan dan ditingkatkan. Sebaliknya bila menemui kegagalan, maka hal itu harus dijadikan pengalaman berharga untuk meraih kesuksesan di masa depan.

Di awal tahun ini, mari kita renungkan firman Allah dalam Al Qur’an surat Al Hasyr ayat 18 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Maka alangkah arifnya bila seseorang memaknai pergantian tahun dengan mawas diri, melihat kelebihan dan kekurangannya untuk menghadapi kehidupan di masa depan, wabilkhusus kehidupan yang abadi di akhirat kelak. Karenanya, yuk kita ganti tradisi merayakan tahun baru yang selama ini bersifat sekuler kepada yang bersifat Islami, misalnya mengadakan tadarus Al Qur’an di masjid/mushalla, diskusi keagamaan, majelis taklim atau ceramah agama di ruang terbuka.

Nah, manakala momentum tahun baru dimaknai untuk menatap kehidupan di masa depan, maka tidak selayaknya malam itu diisi dengan hura-hura, pestapora, pemborosan, begadang semalam suntuk dan kegiatan-kegiatan lain yang tidak bermanfaat. Mari kita ajak keluarga kita untuk tidak merayakan tahun baru secara berlebihan. Kita merindukan suasana tahun baru seperti yang terjadi di Kota Madinah al Munawarah. 

Semoga dengan demikian, tahun baru dapat menyadarkan kita untuk bisa berbuat yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Dan semoga tahun baru 2015 ini membawa berkah bagi kita semua. amin

Terimakasih telah membaca Artikel - MEMAKNAI TAHUN BARU. Silahkan tinggalkan komentar, saran dan pesan Anda untuk kemajuan website Pengadilan Agama Kelas 1A Palangka Raya. Terimakasih untuk dukungan dan partisipasi Anda.
Total Komentar    Belum Ada Komentar
  • Nama harus diisi, Email tidak akan disebarluaskan, Terimakasih.
  • Mohon untuk menggunakan ejaan yang benar / kata-kata yang mudah dimengerti

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.

*